Showing posts with label Kopi&pasta. Show all posts
Showing posts with label Kopi&pasta. Show all posts

Friday, 2 September 2016

KALAU BENAR CINTAKAN ALLAH….

CnP from http://genta-rasa.com/2010/01/16/kalau-benar-cintakan-allah/
Sebutlah nama Allah banyak-banyak. Maksud ayat al Quran dengan kalimah “berzikilah pada waktu pagi dan petang” itu ialah kita berzikir dengan kuantiti dan kuali yang tinggi. Zikir lidah, zikir hati dan zikir perbuatan semuanya menjurus kepada membesarkan Allah, dan segala yang lain kecil belaka.
Lidah menyebut kalimah Allah, lalu hati merasakan kebesaran dan keagungan-Nya, dan tindakan menyusul apabila kita selaraskan segala perbuatan dengan hukum-hakam-Nya. Itulah zikir yang hakiki. Kesannya sepadu. Ia akan memberi ketenangan dan kekuatan.
Namun bila Allah dilupakan, umat akan kurang menyebut nama-Nya lagi. Ketika itu hati-hati pun lalai daripada merasakan kebesaran dan keagungan-Nya. Akibatnya hukum-hakam-Nya diabaikan dalam tindakan dan perbuatan. Bila ini terhadi jangan ditangisi jika Allah “lupakan” kita.
Allah hanya menjadi pembela kepada orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang banyak mengingati-Nya – dengan lidah, hati dan perbuatan. Menjadi seorang muslim sahaja (bukan muttaqin), tidak melayakkan kita mendapat jaminan bantuan daripada-Nya. Siapakah kita, muttaqin atau hanya muslim? 
Muslim, lebih-lebih lagi muslim yang fasik, kurang berzikir malah ada yang tidak berzikir langsung. Apakah Allah akan mengingati kita jika kita melupakan-Nya? Lalu terbiarlah kita dihina, dizalimi dan diperkotak-katikkan oleh musuh tanpa mendapat pembelaan.
Sayidina Umar pernah mengingatkan, bahawa dia lebih bimbangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh tentera Islam berbanding kekuatan dan perancangan musuh. Dosa-dosa akan menghalang daripada datangnya bantuan Allah kepada kita. Kenapa orang melakukan dosa? Jawabnya, kerana lupakan Allah. Lupa zikir kepada-Nya. Justeru, untuk mendapat kekuatan, elakkan dosa. Dan untuk elakkan dosa sentiasalah mengingati Allah.
Ya, masakan orang yang sentiasa ingatkan Allah tergamak bergelumang dengan dosa? Jika terlanjur sedikit pun mereka segera bertaubat. Orang yang beginilah akan mendapat bantuan Allah dalam apa yang mereka usahakan dan perjuangkan. Mereka disokong oleh kawan dan dihormati oleh lawan. Belum pun bertempik, hanya berbisik, orang akan akur dan tunduk.
When Allah is your “friend”, who is your enemy? Bila Allah akrab dengan kita, siapakah yang berani memusuhi kita? King Richard yang berhati singa itu pun tunduk kepada Sultan Salehuddin Al Ayubi. Mengapa? Apakah hanya kerana kekuatan Salehuddin? Tidak, tetapi kerana akhlak dan keperibadiannya yang ditempa oleh zikirullah. Hasilnya, sifat pemaaf, kasih-sayang dan prihatinya, tidak terbatas. Merentas sepadan bangsa, negara dan agama.
Musuh tidak terlalu laju, tetapi orang Islam yang terlalu perlahan. Kita seharusnya ke depan dengan roh cinta dan kasih-sayang. Dengan cinta kita berdakwah, berhujah dan menjelaskan dengan penuh hemah dan hikmah tanpa dibauri oleh kebencian dan prasangka.
Dengan cinta kita tidak hanya menyebut nama-Nya, mengingati-Nya dan mendaulatkan hukum-hakam-Nya dalam diri tetapi kita akan kembangkan sayap cinta itu ke dalam rumah tangga, organisasi, masyarakat dan negara.
Kalau benar cintakan Allah, cintailah diri dan umat ini dengan banyak mengingati-Nya. Bangun seawal Subuh, bersih dan sucikan diri. Lalu solatlah untuk mengingati-Nya. Kemudian, bertebaranlah di muka bumi untuk mencari rezeki yang halal dengan meninggalkan segala bentuk rasuah, riba dan penyelewengan.
Atur keluarga mengikut syariat. Jauhkan pendedahan aurat. Perangi pergaulan bebas, racun hedonisme dan fesyen bohemian dalam kehidupan diri dan remaja kita. Pacu kemajuan ekonomi, tetapi jangan lupakan hukum Ilahi. Bersiasahlah tetapi jauhi fitnah dan kepentingan diri. Ingat Allah! Jaga halal dan haram dalam setiap perilaku dan perbuatan.
Kalau benar cintakan Allah… ingatlah: Cinta itu bukan kata-kata. Love is a verb – cinta itu tindakan. Bangkitlah dengan kecintaan bukan dengan satu kebencian. Jangan marahkan orang yang tidak cinta… jika kita sendiri tidak cinta.
Marahkan diri kita dahulu, sebelum marahkan mereka. Tidak malukah kita kepada Allah, justeru jika demikian… bererti cinta kita hanya kata-kata? Hanya pura-pura?

Tuesday, 24 May 2016

Warming up Ramadhan

#cnp


1.Banyaklah membaca buku-buku atau artikel yang berkaitan dengan puasa ramadhan
Agar lebih semangat dan lebih sempurna dalam menjalankan Ibadah puasa Ramadhan tentu kita perlu mempunyai perbekalan mengenai ramadhan, bagaimana seharusnya kita menjalankan ramadhan dengan baik dan sebagainya, dengan begitu tentu akan membuat kita lebih siap dalam menunaikan puasa ramadhan nantinya
2.Perbanyak puasa di bulan Sya’ban
Usamah bin Zaid ra. bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa’.” (H.R. An Nasa’i, Ahmad, dansanad-nya di-hasan-kan Syaikh Al Albani)






3.Membiasakan diri bangun di sepertiga malam
Selain untuk beribadah melaksanakan giyamul lail (sholat malam) pas sepertiga malam di bulan puasa nanti aktifitas kita ditambah dengan makan sahur, ayo.. yang sering sulit bangun malam, harus belajar mulai sekarang.
4.Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya
Abdullah ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan bahwa alif laam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HR. Tirmidzi)
5.Membiasakan diri selalu memelihara wudhu
Karena bulan ramadhan nanti adalah bulannya memperbanyak beribadah kepada Allah, maka kita perlu juga membiasakan menjaga wudhu. Dalam sehari kita berwudhu minimal lima kali sehari, yaitu untuk menjalankan shalat lima waktu. Meski demikian, kita dianjurkan berwudhu tidak hanya ketika hendak mendirikan shalat, namun juga ketika hendak melakukan ibadah atau amalan lainnya, misalnya ketika membaca Alquran, mengikuti pelajaran, pengajian, dan memasuki masjid. Bahkan ketika kita hendak makan pun dianjurkan untuk berwudhu. ”Keberkahan makanan adalah dengan wudhu sebelum dan sesudahnya.” (HR Abu Dawud).
Di akhirat Rasulullah saw akan mudah mengenali diri kita karena seringnya menjaga wudhu
”Muka dan tangan kalian nanti di hari kiamat berkilauan bekas dari berwudhu.” (HR Muslim)
6.Senantiasa memuhasabah diri
Sebelum memasuki ramadhan kita juga perlu bersih-bersih, tapi bukan bersih rumah, melainkan membersihkan diri dari segala khilaf dan salah selama menjalankan hari-hari. Memohon ampun kepada Allah swt. Menata ulang hati dan pikiran agar sesuai dengan kehendak Ilahi, tentu semua itu akan lebih mudah dilakukan dengan cara memuhasabah diri.
7.Membiasakan memperbanyak sedekah
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)
“Sedekah itu menghapuskan dosa seperti air memadamkan api.” (HR At-Tirmidzi).
“Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Turmudzi dari Anas).
8.Menyediakan waktu untuk senantiasa berzikir kepada Allah
Betapa menyejukkannya hadits qudsi di bawah ini:
“Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.(Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).
9.Membantu orang lain yang sangat membutuhkan
Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa yang melepaskan suatu beban/kesulitan dari seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan melepaskan dari dirinya suatu beban/kesulitan di antara beban-beban di akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (An-Nasa’i, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
“Siapa saja yang suka diringankan bebannya dan dikabulkan doanya, hendaklah ia memudahkan orang yang sedang kesulitan dan mendoakannya.” (HR Muslim).
10.Hebohkan tentang kedatangan ramadhan
Trakhir kita perlu menghebohkan mengenai kedatangan ramadhan, bahwa bulan yang dimuliakan ini akan segera datang.


Monday, 1 February 2016

Penyakit Hati

Sumber asal: http://aku-azharian.blogspot.com


Terdapat perbezaan antara ujub, riak dan takabbur. Apa yang selalu menjadi kekeliruan kita ialah untuk membezakan 3 penyakit hati ini. Ya, terdapat perbezaan antaranya.

Ujub

Jika yang dibicarakan adalah berkenaan dengan UJUB, maka kita perlu untuk memahami bahawa ujub ini timbul dalam hati. Ujub ini adalah lintasan-lintasan kecil yang membisikkan bahawa “aku sedang berbuat baik”, “aku hebat mampu berbuat sedemikian”, atau “wah, baik juga rupanya aku.”
Selalunya, ujub ini hadir sebegitu.
Maksud saya, ujub hadir ketika melakukan kebaikan.
Contohnya, tiba-tiba, minggu itu kamu berterusan menjadi orang pertama yang masuk ke surau pada waktu Subuh, hati-hati sahabat, bimbang akan hadir ucapan hati sebegini:
“Wah, mantap jugak aku rupanya, direct bangun paling awal nie.”
Maka, UJUB telah menjelma.
Juga, hati ini akan cenderung untuk memuji diri sendiri terhadap kelebihan yang ada. Ketika mempersembahkan jawapan di papan putih, ketika memberi ucapan di atas pentas, ketika azan dan menjadi imam, ketika mengalunkan bacaan Quran malah ketika menaip status di Facebook atau tweet di Twitter.
“Eh, ramainya like status aku, hebat juga ya, baru 5 minit sudah 100 like.”
“Bukan calang-calang, setiap tweet aku pasti saja ada yang retweet atau favourite.”
Itu, UJUB.

Riak

Beza pula dengan RIAK. Riak merupakan perbuatan yang menunjuk-nunjuk. Secara mudahnya, ketika sedang melakukan amal atau apa sahaja, ketika itu hadir dalam hati niat untuk menunjuk.
Bermakna, riak ini akan terjadi apabila wujud seseorang yang lain. Tidak akan terjadi riak jika tiada siapa yang kita mahu tunjuk, contohnya kamu hidup di sebuah pulau yang hanya kamu di situ.
Kamu melangkah masuk ke dalam surau, baru sahaja ingin melabuhkan punggung untuk duduk tiba-tiba masuk ustaz warden, sebagai Ketua Ibadah, nanti apa pula dia cakap, jadi kamu pun mula solat sunat Rawatib.
Nampak? Ayat “nanti apa pula orang cakap” yang timbul itu sudah cukup untuk membuktikan kamu hanya menunjuk-nunjuk.
Orang yang riak, selalunya tidak istiqomah. Apabila ada faedah, dia akan buat, apabila tiada, dia tidak buat. Maksudnya di sini, jika dia dapat tunjukkan pada orang, dia akan buat, jika tidak, dia tidak buat. Contoh di asrama, selalunya dia akan turun surau awal pada waktu Subuh, tetapi minggu itu, seluruh ahli biliknya pulang ke kampung, dia bukan setakat bangun lewat, malah hanya solat Subuh di biliknya sahaja.
Itu, RIAK.
Tetapi kena ingat, pada orang istiqomah pun riak ini boleh berlaku.
Contoh di surau lagi, setiap malam Khamis akan diadakan qiamullail, setakat ini kamu masih tidak terlepas lagi tetapi minggu itu kawan ajak tidur di rumahnya. Kamu menolak semata-mata tidak mahu terlepas qiamullail itu. Maklumlah, seluruh penghuni tahu kamu masih tidak terlepas lagi. Soalan saya, tidak boleh qiamullail di rumah kawannya saja? Jika dia beralasan di rumah kawannya payah nak bangun dan tiada ‘skuad’ yang mengejutkan seperti di asrama, itu lain cerita. Tetapi, selalunya dia bangun sendiri dengan menguncikan jam dan dia mampu sahaja bangun awal walau di mana pun, mengapa tidak tidur sahaja di rumah kawan dan qiam sahaja di sana?
Jelas RIAK di situ.

Takabbur

Sekarang, TAKABBUR. Ini juga perbuatan hati, dan merupakan penyakit. Seperti ujub, cuma takabbur ialah berasakan kamu adalah lebih hebat dari lainnya. Ujub, kamu puji diri sendiri. Takabbur, kamu bandingkan kamu dengan yang lain dan tinggikan dirimu. Lagi advance!
Dan juga lagi teruk.
Kamu lihat, semua orang adalah lebih rendah darimu dan kamu lebih mulia.  Bayangkan, kamu merupakan seorang pemidato yang hebat malah pernah menjuarai di peringkat kebangsaan. Satu masa, kamu menghadiri kursus pidato bersama kawan-kawan yang baru sahaja berkecipung dalam bidang ini. Jika wujud rasa dalam hati bahawa kamulah yang paling hebat, maka takabbur mula menguasai.
Natijahnya, kamu berasa tidak puas hati apabila orang lain yang menjadi ketua dan bukannya kamu. Kamu berasa, bukankah kamu yang memiliki pencapaian yang paling tinggi antara yang lainnya? Mengapa dia pula yang ketua? Ketika ada yang menegur kamu bahawa kamu salah pada sekian-sekian, kamu melenting dan tidak mahu terima malah tergamak berasa yang menegur itu memandai-mandai. Maklumlah, kamu peringkat kebangsaan, dia baru nak mula.
Itu, TAKABBUR.
Juga berlaku takabbur ini jika terdapat perbezaan bangsa, warna kulit dan negara. Di Malaysia, di negara sendiri, tiba-tiba seorang warga asing dari Bangladesh menegurmu kerana memotong barisan di ATM. Kamu pekakkan telinga dengan anggapan jijik dan selekehnya orang yang menegurmu itu.
Jelas benar takabbur di situ.
Takabbur ini sememangnya rasa dalam hati. Jika yang tebal sangat tu, mungkin sehingga ucap dengan lisan.
”Kau siapa nak tegur aku? Kau baru ijazah, aku dah Master kot..”
Sudahlah meninggi diri, merendahkan orang pula.
TUNTASNYA, ini semua penyakit hati. Gambaran ini sudah cukup untuk menggambarkan betapa buruknya sifat ini dan pelakunya. Syaitan itu sangat licik. Kadang-kadang tanpa sedar, kita telah bersifat dengan ujub, riak, takabbur dan penyakit hati yang lainnya.
Ketika melangkah masuk untuk beribadah, kamu mula berasa kamu hebat. Itu UJUB. Masuk pula seorang kawan, kamu sengaja lamakan ibadah itu atau zahirkan ibadah itu dengan suara atau sebagainya, itu RIAK. Ketika melihat kawan itu tidak beribadah seperti kamu, kamu berasa kamu lebih hebat dan mulia darinya, itu TAKABBUR.
Sia-sia sudah ibadahmu itu.
Malah, Allah dan Rasul melaknatnya.
Moga saya, moga saya, moga saya dan kalian dapat mengamalkan apa yang baik, dan meninggalkan apa yang buruk.
Wallahu ta’ala ‘alam bissowaab..

Wednesday, 23 December 2015

Kekasih Allah

Bismillah. Sempena maulidur Rasul ,mari kita baca dan renungkan bersama, semoga banyak hikmah yang bisa kita petik, sehingga kita bisa meneladani beliau.



1. Cerita Tentang Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam


_________________________________________________

Kalau pakaian beliau terkoyak atau robek, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menambal dan menjahitnyanya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali beliau pulang ke rumah, bila dilihat tidak ada makanan yang sudah masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur.

Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat.

Pernah Rasulullah pulang pada waktu pagi. Tentulah beliau amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apa pun yang ada untuk di buat sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa belum ke pasar. Maka beliau shollallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan)

Aisyah rodliyallahu 'anhaa menjawab dengan merasa agak serba salah, “Belum ada apa-apa Yaa Rasulallah.”

Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu saya puasa saja hari ini.” tanpa sedikitpun tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah Rasulullah bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Subhaanallaah....Prihatin, sabar dan tawadhuknya Rasulullah sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika Rasulullah menjadi imam sholat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi kemerutuk seolah-olah sendi-sendi pada tubuh beliau yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sahabat Umar yang tidak tahan melihat keadaan beliau itu langsung bertanya setelah selesai sholat :

“Yaa Rasulallah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah anda sakit yaa Rasulallah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, saya sehat dan segar” jawab beliau.

“Yaa Rasulallah… mengapa setiap kali baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh baginda?

Kami yakin anda sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Yaa Rasulallah! Adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat baginda?”

Lalu beliau menjawab dengan lembut dan senyum, ”Tidak para sahabatku. saya tahu, apa pun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan saya jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila saya sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Subhanallaah...betapa cintanya beliau kepada umatnya.....sedang cinta kita kepada beliau??? apakah kita sering ingat pada beliau??? apakah kita sering membaca sholawat untuk beliau??? apakah akhlak Rasulullah yang begitu lembut, santun, pemaaf, ikhlas dan tawadlu' serta selalu menyentuh hati telah kita teladani???

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar saat kain surbannya diambil dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH TA'ALA dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang tinggi menjadikan beliau seorang yang tawadlu' yang tidak ingin dimuliakan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Ketika pintu Surga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa, “Yaa Rasulallah, bukankah anda telah dijamin Surga? Mengapa anda masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Yaa ‘Aisyah, bukankah saya ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya saya ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah benar-benar sosok hamba yang sangat bersyukur kepada-Nya, beliau mensyukuri semua anugerah yang beliau terima dengan ibadah yang sungguh-sungguh....Subhaanallaah.....

Renungan untuk kita, bagaimana ibadah kita, sudahkah sungguh-sungguh sebagaimana Rasulullah??? atau masih jauh dari rasa sungguh-sungguh??? ataukah masih merasa berat atau merasa terbebani dengan ibadah-ibadah yang Allah wajibkan pada kita??? jawabannya ada di hati kita masing-masing....bila kita mau berfikir memang nikmat Allah pada kita banyak sehingga tidak mungkin kita menghitungnya, tapi sayang banyak manusia yang tidak mau memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan-Nya, terutama nikmat IMAN dan ISLAM.

Allah telah berfirman dalam QS. Al-Qolam ayat 4 yang terjemahnya "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak (berbudi pekerti) yang agung"

Demikian sedikit apa yang ana bisa sampaikan tentang agungnya dan mulianya Rasulullah, tidak lupa ana sampaikan terima kasih kepada siapa yang menyempatkan waktu membaca artikel sederhana ini.

2. Bismillahirrahmaanirrahiim

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?"
Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.

***


Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

***


Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bum; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

***


”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)


3. Kisah Rasulullah dan Seorang Badui

PADA suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Kaabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Kaabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
“Belum,” jawab orang itu.
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badwi itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua-dua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badwi itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badwi berkata lagi, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

Saturday, 5 September 2015

Amalan Anak untuk Ibu Bapa yang telah meninggal dunia

السَّلاَمُ عَلَيْكُم
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.


Sahabat yang dirahmati Allah,
Ibu bapa adalah orang yang paling berjasa kepada anak-anaknya. Bermula daripada kesusahan ibunya mengandung selama 9 bulan 9 hari. Kesusahan melahirkan anak-anak dan menyusukan dan membesarkan mereka.

Bagi anak-anak jasa dan pengorbanan ibu bapa sangat besar nilainya. Mereka dengan penuh rasa tanggungjawab membesar, mendidik dan memelihara anaknya hingga menjadi manusia yang berguna kepada masyarakat dan negara. Seorang anak yang diasuh dan dididik dengan nilai agama, hendaklah memberi penghormatan dan kasih sayang sewajarnya kepada mereka.

Kita hendaklah menunjukkan rasa terima kasih dengan sentiasa berbuat baik dan tidak melanggar segala perintahnya, menjaga perasaannya jangan sampai terluka serta menjaganya ketika mereka dalam tua atau uzur.

Sememangnya, kedudukan atau darjat ibu bapa di sisi Allah sangat mulia dan tinggi sekali, sehingga menjadi sebagai ukuran penentu bagi keredaan dan kemurkaan Allah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud: "Keredaan Allah terletak pada keredaan ibu bapa dan kemurkaan Allah pula terletak pada kemurkaan ibu bapanya." (Hadis riwayat at-Tirmizi dan Hakim).

Berdasarkan maksud hadis di atas, seharusnya sebagai insan yang memiliki kesempurnaan akal, kita berusaha untuk mencapai keredaan ibu bapa. Namun dalam masyarakat kita, lebih-lebih lagi pada zaman sekarang ini, kenyataannya masih ramai yang belum insaf dan tidak prihatin terhadap keterangan hadis di atas. Mereka dengan rasa tanpa segan silu, melakukan penderhakaan terhadap ibu bapa yang banyak berjasa.

Sahabat yang dimuliakan,
Setiap yang hidup anak mati , mati tetap datang kepada sesiapa sahaja tanpa mengira umur apabila saatnya sampai maka dia akan dijemput oleh Allah SWT untuk bertemu dengan-Nya di alam barzakh. Apabila ibu atau bapa kita sudah meninggal dunia atau kedua-duanya sudah kembali kerahmatullah, sebagai anak apakah hadiah dan bantuan terbaik yang dapat kita berikan tanda kita kasih dan sayang kepada kedua ibu bapa kita? , dan sebagai tanda penghargaan kita sebagai seorang anak yang soleh atau solehah?

 Terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim bahawa seorang sahabat bertanya Nabi SAW mengenai apakah jasa yang boleh dilakukan oleh anak kepada kedua ibu bapanya yang telah meninggal dunia.?

"Setiap kali Rasulullah SAW mengadakan majlis iaitu tempat baginda mengajar umatnya, ia sentiasa di penuhi oleh orang ramai. Pada suatu hari ketika baginda sedang duduk di sekeliling oleh para sahabat, datanglah seorang lelaki yang bernama Usaid bin Malik bin Rabiah menghadapnya. Dia adalah seorang pahlawan Islam yang sangat berani.

Setiap kali Nabi SAW mengadakan majlis itu, Usaid sentiasa menghadirinya. Dia merasakan segala nasihat-nasihat tentang agama dan ilmu itu sangat penting baginya. Ketika mereka sedang asyik mendengar syarahan dari baginda, tiba-tiba datang seorang lelaki dari golongan Bani Salmah. Sebaik sahaja dia masuk kemajlis itu dengan hormat dia pun bertanya kepada Rasulullah SAW :

“Ya Rasul Allah, masih dapatkah saya berbuat baik terhadap ibu bapa saya meskipun mereka telah meninggal dunia. Semasa mereka masih hidup saya telah berbuat baik terhadap mereka mengikut apa yang terdaya oleh saya. Saya sentiasa berfikir apakah yang boleh saya lakukan setelah keduanya meninggal dunia.”

Rasulullah SAW menjawab yang bermaksud :

“Ya…dapat, sembahyangkanlah untuk kedua ibu bapa kamu, mohon keampunan untuk keduanya, laksanakanlah wasiatnya dan eratkanlah silaturahim dengan orang-orang yang kedua ibu bapa kamu lakukan serta muliakanlah teman kedua ibu bapa kamu.”

Sebaik sahaja mereka terdengar jawapan dari Rasulullah SAW itu mereka terdiam seketika tetapi di wajah masing-masing terbayang kegembiraan. Lelaki yang bertanya tadi masih tidak faham akan jawapan yang di berikan oleh Rasulullah SAW, lantas dia meminta baginda menerangkan sekali lagi.

Rasulullah SAW  tersenyum mendengar kata-kata lelaki itu lantas baginda pun bersabda yang bermaksud “Apabila meninggal dunia seorang anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali tiga iaitu :

1. Sedekah yang di tinggalkan semasa hidup.

2. Ilmu yang di menfaatkan dan

3. Anak yang soleh yang mendoakan kedua ibu bapanya.”

Setelah Rasulullah SAW berkata begitu barulah lelaki itu faham dan mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Nabi SAW kerana telah memberi sesuatu yang besar menfaatnya kepada yang hidup maupun yang telah mati.”

(Hadis Riwayat Luqman Hakim)

Berdasarkan hadis di atas terdapat beberapa amalan yang boleh dilakukan oleh seorang anak untuk kedua ibu bapanya yang telah meninggal dunia iaitu :

1. Sembahyangkan untuk mereka.

2. Mohon keampunan untuk mereka.

3. Laksanakan wasiat yang mereka tinggalkan.

4. Eratkanlah silaturahim dengan orang-orang yang mereka lakukan

5. Muliakanlah teman-teman mereka.

6. Doakan kepada mereka. (Setiap selepas solat fardu berdoalah kepada Allah SWT untuk  kedua ibu bapa supaya Allah SWT mengampunkan semua dosa-dosa mereka)

Selain daripada perkara-perkara diatas seorang anak yang soleh atau solehah akan melakukan beberapa perkara kebaikan untuk membantu ibu bapa mereka yang sedang berada di alam barzakh sebagai ikhtiar dan usaha-usaha untuk membantu mereka beroleh kebaikan dan tambahan pahala yang berterusan.

1. Banyakkan bersedekah terutama sedekah jariah (pembinaan sekolah agama, masjid, rumah anak yatim dan mewakafkan tanah perkuburan orang Islam) niatkan untuk mereka.

2. Sedekahkan al-Quran, buku-buku Islam di sekolah-sekolah agama atau maahad tahfiz atau dimasjid-masjid niatkan untuk mereka.

3. Selalu sedekahkan al-Fatihah, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah an-nas, surah Yasin, surah al-Baqarah dan ayat-ayat al-Quran yang lain untuk mereka. Sebaik-baik yang membacanya adalah kita sendiri sebagai seorang anak.
Sedekah bacaan al-Quran menurut majoriti ulama ahli sunah waljamaah sampai kepada simati :

Abu al-Lajlaj Abu Khalid (seorang sahabat) mendengar Nabi SAW menggalakkan para sahabat membaca ayat suci al-Quran di bahagian kepala dan kaki si mati di atas kubur. Lalu mewasiatkan amalan tersebut kepada anaknya supaya berbuat demikian.

Abd Rahman bin al-A’la bin Lajlaj daripada bapanya, katanya : berkata Abu al-Lajlaj Abu Khalid : “Wahai anakku, apabila aku meninggal dunia kebumikanlah aku. Apabila kamu meletakkan jasadku di liang lahad, bacalah: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah SAW, Kemudian curahkanlah tanah dengan cermat ke atasku. Kemudian bacalah disisi kepalaku permulaan surah al-Baqarah dan penutupnya, kerana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda sedemikian.” (al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 1982, Maktabah al-Ulum Wal Hikam, hlm 220 juz 19)

Di dalam kitab al-Azkar di bawah tajuk: “Apa yang perlu dibaca selepas pengebumian?. Imam al-Nawawi menyebutkan: “Al-Syafie dan para sahabat (ulamak Syafi’iyyah) mengatakan: “Disunatkan membaca disisi kubur sesuatu daripada ayat al-Quran. Mereka mengatakan: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran kesemuanya maka itu adalah (sesuatu yang) baik.” (al-Nawawi, al-Azkar, Dar al-Makrifah: Beirut, 1996, hlm. 142 )

Imam al-Hassan bin al-Sobbah al-Za’farani berkata: “Aku bertanya kepada al-Syafi’ie tentang bacaan al-Quran di kubur. Lalu beliau menjawab: “Tidak mengapa. Al-Khallal meriwayatkan daripada Al-Sya’bie katanya: “Orang Ansar apabila berlakunya kematian dikalangan mereka, maka mereka selalu mengunjungi kuburnya untuk membaca al-Quran di sisinya.”

4. Selesaikan semua hutang-hutang mereka samaada hutang sesama manusia atau hutang dengan Allah SWT. Jika hutang sesama manusia tidak diselesaikan roh mereka akan tergantung di antara langit dan bumi. Hutang dengan Allah SWT adalah nazarnya (jika ada). fidyah kerana meninggalkan puasa. Jika ibu bapa mempunyai hutang dengan bank seperti rumah, kereta dan lain-lain pinjaman tersebut melalui cara riba maka tukarkanlah pinjaman tersebut kepada cara muamalah  Islam dan tukar hak milik kepada anak-anak, kerana berat dosanya yang ditanggung oleh ibu bapa di alam barzakh.

5. Jika ibu bapa belum menunaikan haji maka kita boleh upahkan haji untuk mereka (niatkan upah haji untuk mereka).

6. Beramal dengan amalan Islam. Semua anak-anak yang masih hidup apabila mereka tidak mengamalkan cara hidup Islam dengan melakukan maksiat dan dosa, anak perempuan tidak menutup aurat,  bergaduh sesama adik beradik kerana harta pusaka semua tindakkan ini menyusahkan dan membebankan ibu bapa kita yang berada dialam barzakh. Ibu bapa akan menyesal kerana mereka tidak mendidik anak-anak mereka dengan cara hidup Islam hingga mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT. Ketika ini penyesalan sudah tidak berguna lagi kerana perkara tersebut sudah berlaku. Tetapi untuk anak-anak pula macamana mereka hendak membantu ibu bapa mereka yang sudah mati tadi? Maka mereka perlu beramal soleh, beramal ibadah dan beramal kebaikan kerana semua pahala yang kalian buat akan membari saham yang besar kepada ibu bapa kalian yang sedang menderita di alam barzakh.

Amalkanlah ilmu yang diajarkan oleh kedua ibu bapa kalian maka mereka akan mendapat pahala ilmu yang bermanfaat. Banyakkan sedekah jariah dan niatkan untuk ibu bapa maka ibu bapa kalian akan mendapat pahala sedekah jariah.

Sahabat yang dikasihi,
Teruskan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Apabila kita selesai solat fardu atau ketika berada diwaktu-waktu akhir malam , waktu mustajab doa maka berdoalah untuk kesejahteraan ibu bapa kita yang telah meninggal dunia :

Segala puji bagi Allah yang telah memerintah kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada ibu dan bapa, dan berwasiat agar kami menyayangi mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidiki kami sewaktu kecil.

Ya Allah sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati dan redhailah mereka.

Ya Allah ampunilah mereka dengan keampunan menyeluruh yang dapat menghapuskan dosa-dosa mereka yang lampau dan perbuatan buruk yang terus menerus mereka lakukan.

Ya Allah, berbuat baiklah kepada mereka sebanyak kebaikan mereka kepada kami setelah dilipatgandakan, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang sebagaimana mereka dahulu memandang kami.

Ya Allah berilah mereka hak rububiyah-Mu yang telah mereka sia-siakan kerana sibuk mendidik kami.

Maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu kerana mengutamakan kami.

Maafkanlah mereka atas segala dosa, maksiat dan syubahat yang mereka jalani dalam usaha menghidupkan kami.

Ya Allah berilah mereka bagian ganjaran dari ketaatan yang Engkau hidayahkan kepada kami, kebaikan yang Engkau mudahkan bagi kami, dan taufiq yang telah mendekatkan kami kepada-Mu.

Dan jangan bebankan kepada mereka segala dosa dan kesalahan yang kami lakukan dan tanggungjawab yang kami abaikan. Dan janganlah tambahkan dosa kami ke atas dosa mereka.

Bagi ibu bapa dan nenek moyang kami yang telah meninggal, berikanlah mereka rahmat yang menerangi pembaringan mereka di kubur dan rahmat yang menimbulkan rasa aman ketika manusia merasa ketakutan saat dibangkitkan. Jadikanlah lubang kubur mereka daripada taman-taman syurga. Jauhkan lubang kubur mereka salah satu daripada lubang-lubang api neraka.

Ya Allah lemah lembutlah kepada mereka yang berbaring di kubur dengan kelembutan yang melebihi sikap lembut mereka kepada kami di masa hidup mereka.

Ya Allah janganlah sampaikan kepada mereka berita tentang kami yang mengecewakan mereka, dan jangan bebankan dosa-dosa kami kepada mereka.

Jangan hinakan mereka di hadapan pasukan kematian, malaikat Munkar dan Nakir dengan perbuatan-perbuatan hina dan mungkar yang kami lakukan.

Senangkanlah roh mereka dengan amal-amal kami di tempat pertemuan para arwah, ketika orang yang soleh bergembira dengan putera-puteri mereka yang soleh. Janganlah jadikan mereka ternoda oleh perbuatan buruk kami.

Ya Allah jadikanlah kami penyejuk hati mereka pada hari berdirinya para saksi. Dan jadikanlah mereka orang-orang yang paling cemburu dengan keberhasilan anak-anak mereka hingga Engkau kumpulkan kami, mereka dan segenap kaum muslimin di negeri kemuliaan-Mu, tempat menetapnya rahmat-Mu, dan tempat para wali-Mu bersama orang-orang yang Engkau beri kenikmatan,

Yaitu, para nabi, shiddiqin, syuhada dan solihin, mereka itulah sebaik-baiknya teman.

Demikianlah kurnia dari Allah dan Allah cukup mengetahui. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan kami Nabi Muhammad S.A.W, keluarga dan para sahabat baginda.

Walhamdulillahi Rabbil `Aalamin.  Amin

Sunday, 12 April 2015

Amanat seorang ulama' ( Sheikh Ahmad Yassin )


Wahai anak-anakku, 
telah tiba saatnya kalian kembali kepada ALLAH s.w.t. dengan meninggalkan pelbagai keseronokan dan kealpaan kehidupan dan menyingkirkannya jauh… daripada kehidupan kalian.

Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan solat subuh secara berjemaah.

Sudah sampai saatnya untuk kalian menghiasi diri dengan akhlak yang murni,
mengamalkan kandungan al-Quran serta mencontohi kehidupan Nabi Muhammad saw.

Aku menyeru kalian wahai anak-anakku untuk solat tepat pada waktunya.
Lebih dari itu, aku mengajak kalian wahai anak-anakku, untuk mendekat diri kepada sunnah Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian menyedari dan menghayati makna tanggung jawab. Kalian harus tegar menghadapi kesulitan hidup dengan meninggalkan keluh kesah. 

Aku menyeru kalian untuk menghadap ALLAH S.W.T. dan memohon keampunan dari-Nya agar Dia memberi rezeki yang berkat kepada kalian.

Aku menyeru kalian supaya menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

Aku ingin kalian tidak tertidur oleh alunan-alunan muzik yang melalaikan, melupakan kata-kata yang menyebutkan cinta kepada manusia dan dunia serta menggantikannya dengan kata amal, kerja dan zikir kepada ALLAH.

Wahai anak-anakku, aku amat berharap kalian tidak sibuk dengan muzik dan tidak terjerumus ke dalam arus syahwat.

Wahai puteriku, aku ingin kalian berjanji kepada ALLAH akan mengenakan
hijab secara jujur dan betul.

Aku meminta kalian berjanji kepada ALLAH bahawa kalian akan mengambil peduli tentang agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan.
Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian.
Haram hukumnya bagi kalian untuk melakukan sesuatu yang boleh menarik perhatian pemuda supaya mendekati kalian.

Kepada semua, aku ingin kalian bersiap sedia untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan.
Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah.
Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat.

Latihlah diri kalian agar dapat hidup tanpa elektrik dan peralatan elektronik.
Latihlah diri kalian untuk sementara waktu merasakan kehidupan yang sukar.

Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perancangan untuk masa depan.
Berpeganglah kepada agama kalian.

Carilah sebab-sebabnya dan tawakal kepada ALLAH
Showing posts with label Kopi&pasta. Show all posts
Showing posts with label Kopi&pasta. Show all posts

KALAU BENAR CINTAKAN ALLAH….

CnP from http://genta-rasa.com/2010/01/16/kalau-benar-cintakan-allah/
Sebutlah nama Allah banyak-banyak. Maksud ayat al Quran dengan kalimah “berzikilah pada waktu pagi dan petang” itu ialah kita berzikir dengan kuantiti dan kuali yang tinggi. Zikir lidah, zikir hati dan zikir perbuatan semuanya menjurus kepada membesarkan Allah, dan segala yang lain kecil belaka.
Lidah menyebut kalimah Allah, lalu hati merasakan kebesaran dan keagungan-Nya, dan tindakan menyusul apabila kita selaraskan segala perbuatan dengan hukum-hakam-Nya. Itulah zikir yang hakiki. Kesannya sepadu. Ia akan memberi ketenangan dan kekuatan.
Namun bila Allah dilupakan, umat akan kurang menyebut nama-Nya lagi. Ketika itu hati-hati pun lalai daripada merasakan kebesaran dan keagungan-Nya. Akibatnya hukum-hakam-Nya diabaikan dalam tindakan dan perbuatan. Bila ini terhadi jangan ditangisi jika Allah “lupakan” kita.
Allah hanya menjadi pembela kepada orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang banyak mengingati-Nya – dengan lidah, hati dan perbuatan. Menjadi seorang muslim sahaja (bukan muttaqin), tidak melayakkan kita mendapat jaminan bantuan daripada-Nya. Siapakah kita, muttaqin atau hanya muslim? 
Muslim, lebih-lebih lagi muslim yang fasik, kurang berzikir malah ada yang tidak berzikir langsung. Apakah Allah akan mengingati kita jika kita melupakan-Nya? Lalu terbiarlah kita dihina, dizalimi dan diperkotak-katikkan oleh musuh tanpa mendapat pembelaan.
Sayidina Umar pernah mengingatkan, bahawa dia lebih bimbangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh tentera Islam berbanding kekuatan dan perancangan musuh. Dosa-dosa akan menghalang daripada datangnya bantuan Allah kepada kita. Kenapa orang melakukan dosa? Jawabnya, kerana lupakan Allah. Lupa zikir kepada-Nya. Justeru, untuk mendapat kekuatan, elakkan dosa. Dan untuk elakkan dosa sentiasalah mengingati Allah.
Ya, masakan orang yang sentiasa ingatkan Allah tergamak bergelumang dengan dosa? Jika terlanjur sedikit pun mereka segera bertaubat. Orang yang beginilah akan mendapat bantuan Allah dalam apa yang mereka usahakan dan perjuangkan. Mereka disokong oleh kawan dan dihormati oleh lawan. Belum pun bertempik, hanya berbisik, orang akan akur dan tunduk.
When Allah is your “friend”, who is your enemy? Bila Allah akrab dengan kita, siapakah yang berani memusuhi kita? King Richard yang berhati singa itu pun tunduk kepada Sultan Salehuddin Al Ayubi. Mengapa? Apakah hanya kerana kekuatan Salehuddin? Tidak, tetapi kerana akhlak dan keperibadiannya yang ditempa oleh zikirullah. Hasilnya, sifat pemaaf, kasih-sayang dan prihatinya, tidak terbatas. Merentas sepadan bangsa, negara dan agama.
Musuh tidak terlalu laju, tetapi orang Islam yang terlalu perlahan. Kita seharusnya ke depan dengan roh cinta dan kasih-sayang. Dengan cinta kita berdakwah, berhujah dan menjelaskan dengan penuh hemah dan hikmah tanpa dibauri oleh kebencian dan prasangka.
Dengan cinta kita tidak hanya menyebut nama-Nya, mengingati-Nya dan mendaulatkan hukum-hakam-Nya dalam diri tetapi kita akan kembangkan sayap cinta itu ke dalam rumah tangga, organisasi, masyarakat dan negara.
Kalau benar cintakan Allah, cintailah diri dan umat ini dengan banyak mengingati-Nya. Bangun seawal Subuh, bersih dan sucikan diri. Lalu solatlah untuk mengingati-Nya. Kemudian, bertebaranlah di muka bumi untuk mencari rezeki yang halal dengan meninggalkan segala bentuk rasuah, riba dan penyelewengan.
Atur keluarga mengikut syariat. Jauhkan pendedahan aurat. Perangi pergaulan bebas, racun hedonisme dan fesyen bohemian dalam kehidupan diri dan remaja kita. Pacu kemajuan ekonomi, tetapi jangan lupakan hukum Ilahi. Bersiasahlah tetapi jauhi fitnah dan kepentingan diri. Ingat Allah! Jaga halal dan haram dalam setiap perilaku dan perbuatan.
Kalau benar cintakan Allah… ingatlah: Cinta itu bukan kata-kata. Love is a verb – cinta itu tindakan. Bangkitlah dengan kecintaan bukan dengan satu kebencian. Jangan marahkan orang yang tidak cinta… jika kita sendiri tidak cinta.
Marahkan diri kita dahulu, sebelum marahkan mereka. Tidak malukah kita kepada Allah, justeru jika demikian… bererti cinta kita hanya kata-kata? Hanya pura-pura?

Warming up Ramadhan

#cnp


1.Banyaklah membaca buku-buku atau artikel yang berkaitan dengan puasa ramadhan
Agar lebih semangat dan lebih sempurna dalam menjalankan Ibadah puasa Ramadhan tentu kita perlu mempunyai perbekalan mengenai ramadhan, bagaimana seharusnya kita menjalankan ramadhan dengan baik dan sebagainya, dengan begitu tentu akan membuat kita lebih siap dalam menunaikan puasa ramadhan nantinya
2.Perbanyak puasa di bulan Sya’ban
Usamah bin Zaid ra. bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa’.” (H.R. An Nasa’i, Ahmad, dansanad-nya di-hasan-kan Syaikh Al Albani)






3.Membiasakan diri bangun di sepertiga malam
Selain untuk beribadah melaksanakan giyamul lail (sholat malam) pas sepertiga malam di bulan puasa nanti aktifitas kita ditambah dengan makan sahur, ayo.. yang sering sulit bangun malam, harus belajar mulai sekarang.
4.Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya
Abdullah ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan bahwa alif laam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HR. Tirmidzi)
5.Membiasakan diri selalu memelihara wudhu
Karena bulan ramadhan nanti adalah bulannya memperbanyak beribadah kepada Allah, maka kita perlu juga membiasakan menjaga wudhu. Dalam sehari kita berwudhu minimal lima kali sehari, yaitu untuk menjalankan shalat lima waktu. Meski demikian, kita dianjurkan berwudhu tidak hanya ketika hendak mendirikan shalat, namun juga ketika hendak melakukan ibadah atau amalan lainnya, misalnya ketika membaca Alquran, mengikuti pelajaran, pengajian, dan memasuki masjid. Bahkan ketika kita hendak makan pun dianjurkan untuk berwudhu. ”Keberkahan makanan adalah dengan wudhu sebelum dan sesudahnya.” (HR Abu Dawud).
Di akhirat Rasulullah saw akan mudah mengenali diri kita karena seringnya menjaga wudhu
”Muka dan tangan kalian nanti di hari kiamat berkilauan bekas dari berwudhu.” (HR Muslim)
6.Senantiasa memuhasabah diri
Sebelum memasuki ramadhan kita juga perlu bersih-bersih, tapi bukan bersih rumah, melainkan membersihkan diri dari segala khilaf dan salah selama menjalankan hari-hari. Memohon ampun kepada Allah swt. Menata ulang hati dan pikiran agar sesuai dengan kehendak Ilahi, tentu semua itu akan lebih mudah dilakukan dengan cara memuhasabah diri.
7.Membiasakan memperbanyak sedekah
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)
“Sedekah itu menghapuskan dosa seperti air memadamkan api.” (HR At-Tirmidzi).
“Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Turmudzi dari Anas).
8.Menyediakan waktu untuk senantiasa berzikir kepada Allah
Betapa menyejukkannya hadits qudsi di bawah ini:
“Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.(Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).
9.Membantu orang lain yang sangat membutuhkan
Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa yang melepaskan suatu beban/kesulitan dari seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan melepaskan dari dirinya suatu beban/kesulitan di antara beban-beban di akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (An-Nasa’i, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
“Siapa saja yang suka diringankan bebannya dan dikabulkan doanya, hendaklah ia memudahkan orang yang sedang kesulitan dan mendoakannya.” (HR Muslim).
10.Hebohkan tentang kedatangan ramadhan
Trakhir kita perlu menghebohkan mengenai kedatangan ramadhan, bahwa bulan yang dimuliakan ini akan segera datang.


Penyakit Hati

Sumber asal: http://aku-azharian.blogspot.com


Terdapat perbezaan antara ujub, riak dan takabbur. Apa yang selalu menjadi kekeliruan kita ialah untuk membezakan 3 penyakit hati ini. Ya, terdapat perbezaan antaranya.

Ujub

Jika yang dibicarakan adalah berkenaan dengan UJUB, maka kita perlu untuk memahami bahawa ujub ini timbul dalam hati. Ujub ini adalah lintasan-lintasan kecil yang membisikkan bahawa “aku sedang berbuat baik”, “aku hebat mampu berbuat sedemikian”, atau “wah, baik juga rupanya aku.”
Selalunya, ujub ini hadir sebegitu.
Maksud saya, ujub hadir ketika melakukan kebaikan.
Contohnya, tiba-tiba, minggu itu kamu berterusan menjadi orang pertama yang masuk ke surau pada waktu Subuh, hati-hati sahabat, bimbang akan hadir ucapan hati sebegini:
“Wah, mantap jugak aku rupanya, direct bangun paling awal nie.”
Maka, UJUB telah menjelma.
Juga, hati ini akan cenderung untuk memuji diri sendiri terhadap kelebihan yang ada. Ketika mempersembahkan jawapan di papan putih, ketika memberi ucapan di atas pentas, ketika azan dan menjadi imam, ketika mengalunkan bacaan Quran malah ketika menaip status di Facebook atau tweet di Twitter.
“Eh, ramainya like status aku, hebat juga ya, baru 5 minit sudah 100 like.”
“Bukan calang-calang, setiap tweet aku pasti saja ada yang retweet atau favourite.”
Itu, UJUB.

Riak

Beza pula dengan RIAK. Riak merupakan perbuatan yang menunjuk-nunjuk. Secara mudahnya, ketika sedang melakukan amal atau apa sahaja, ketika itu hadir dalam hati niat untuk menunjuk.
Bermakna, riak ini akan terjadi apabila wujud seseorang yang lain. Tidak akan terjadi riak jika tiada siapa yang kita mahu tunjuk, contohnya kamu hidup di sebuah pulau yang hanya kamu di situ.
Kamu melangkah masuk ke dalam surau, baru sahaja ingin melabuhkan punggung untuk duduk tiba-tiba masuk ustaz warden, sebagai Ketua Ibadah, nanti apa pula dia cakap, jadi kamu pun mula solat sunat Rawatib.
Nampak? Ayat “nanti apa pula orang cakap” yang timbul itu sudah cukup untuk membuktikan kamu hanya menunjuk-nunjuk.
Orang yang riak, selalunya tidak istiqomah. Apabila ada faedah, dia akan buat, apabila tiada, dia tidak buat. Maksudnya di sini, jika dia dapat tunjukkan pada orang, dia akan buat, jika tidak, dia tidak buat. Contoh di asrama, selalunya dia akan turun surau awal pada waktu Subuh, tetapi minggu itu, seluruh ahli biliknya pulang ke kampung, dia bukan setakat bangun lewat, malah hanya solat Subuh di biliknya sahaja.
Itu, RIAK.
Tetapi kena ingat, pada orang istiqomah pun riak ini boleh berlaku.
Contoh di surau lagi, setiap malam Khamis akan diadakan qiamullail, setakat ini kamu masih tidak terlepas lagi tetapi minggu itu kawan ajak tidur di rumahnya. Kamu menolak semata-mata tidak mahu terlepas qiamullail itu. Maklumlah, seluruh penghuni tahu kamu masih tidak terlepas lagi. Soalan saya, tidak boleh qiamullail di rumah kawannya saja? Jika dia beralasan di rumah kawannya payah nak bangun dan tiada ‘skuad’ yang mengejutkan seperti di asrama, itu lain cerita. Tetapi, selalunya dia bangun sendiri dengan menguncikan jam dan dia mampu sahaja bangun awal walau di mana pun, mengapa tidak tidur sahaja di rumah kawan dan qiam sahaja di sana?
Jelas RIAK di situ.

Takabbur

Sekarang, TAKABBUR. Ini juga perbuatan hati, dan merupakan penyakit. Seperti ujub, cuma takabbur ialah berasakan kamu adalah lebih hebat dari lainnya. Ujub, kamu puji diri sendiri. Takabbur, kamu bandingkan kamu dengan yang lain dan tinggikan dirimu. Lagi advance!
Dan juga lagi teruk.
Kamu lihat, semua orang adalah lebih rendah darimu dan kamu lebih mulia.  Bayangkan, kamu merupakan seorang pemidato yang hebat malah pernah menjuarai di peringkat kebangsaan. Satu masa, kamu menghadiri kursus pidato bersama kawan-kawan yang baru sahaja berkecipung dalam bidang ini. Jika wujud rasa dalam hati bahawa kamulah yang paling hebat, maka takabbur mula menguasai.
Natijahnya, kamu berasa tidak puas hati apabila orang lain yang menjadi ketua dan bukannya kamu. Kamu berasa, bukankah kamu yang memiliki pencapaian yang paling tinggi antara yang lainnya? Mengapa dia pula yang ketua? Ketika ada yang menegur kamu bahawa kamu salah pada sekian-sekian, kamu melenting dan tidak mahu terima malah tergamak berasa yang menegur itu memandai-mandai. Maklumlah, kamu peringkat kebangsaan, dia baru nak mula.
Itu, TAKABBUR.
Juga berlaku takabbur ini jika terdapat perbezaan bangsa, warna kulit dan negara. Di Malaysia, di negara sendiri, tiba-tiba seorang warga asing dari Bangladesh menegurmu kerana memotong barisan di ATM. Kamu pekakkan telinga dengan anggapan jijik dan selekehnya orang yang menegurmu itu.
Jelas benar takabbur di situ.
Takabbur ini sememangnya rasa dalam hati. Jika yang tebal sangat tu, mungkin sehingga ucap dengan lisan.
”Kau siapa nak tegur aku? Kau baru ijazah, aku dah Master kot..”
Sudahlah meninggi diri, merendahkan orang pula.
TUNTASNYA, ini semua penyakit hati. Gambaran ini sudah cukup untuk menggambarkan betapa buruknya sifat ini dan pelakunya. Syaitan itu sangat licik. Kadang-kadang tanpa sedar, kita telah bersifat dengan ujub, riak, takabbur dan penyakit hati yang lainnya.
Ketika melangkah masuk untuk beribadah, kamu mula berasa kamu hebat. Itu UJUB. Masuk pula seorang kawan, kamu sengaja lamakan ibadah itu atau zahirkan ibadah itu dengan suara atau sebagainya, itu RIAK. Ketika melihat kawan itu tidak beribadah seperti kamu, kamu berasa kamu lebih hebat dan mulia darinya, itu TAKABBUR.
Sia-sia sudah ibadahmu itu.
Malah, Allah dan Rasul melaknatnya.
Moga saya, moga saya, moga saya dan kalian dapat mengamalkan apa yang baik, dan meninggalkan apa yang buruk.
Wallahu ta’ala ‘alam bissowaab..

Kekasih Allah

Bismillah. Sempena maulidur Rasul ,mari kita baca dan renungkan bersama, semoga banyak hikmah yang bisa kita petik, sehingga kita bisa meneladani beliau.



1. Cerita Tentang Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam


_________________________________________________

Kalau pakaian beliau terkoyak atau robek, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menambal dan menjahitnyanya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali beliau pulang ke rumah, bila dilihat tidak ada makanan yang sudah masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur.

Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat.

Pernah Rasulullah pulang pada waktu pagi. Tentulah beliau amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apa pun yang ada untuk di buat sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa belum ke pasar. Maka beliau shollallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan)

Aisyah rodliyallahu 'anhaa menjawab dengan merasa agak serba salah, “Belum ada apa-apa Yaa Rasulallah.”

Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu saya puasa saja hari ini.” tanpa sedikitpun tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah Rasulullah bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Subhaanallaah....Prihatin, sabar dan tawadhuknya Rasulullah sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika Rasulullah menjadi imam sholat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi kemerutuk seolah-olah sendi-sendi pada tubuh beliau yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sahabat Umar yang tidak tahan melihat keadaan beliau itu langsung bertanya setelah selesai sholat :

“Yaa Rasulallah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah anda sakit yaa Rasulallah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, saya sehat dan segar” jawab beliau.

“Yaa Rasulallah… mengapa setiap kali baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh baginda?

Kami yakin anda sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Yaa Rasulallah! Adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat baginda?”

Lalu beliau menjawab dengan lembut dan senyum, ”Tidak para sahabatku. saya tahu, apa pun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan saya jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila saya sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Subhanallaah...betapa cintanya beliau kepada umatnya.....sedang cinta kita kepada beliau??? apakah kita sering ingat pada beliau??? apakah kita sering membaca sholawat untuk beliau??? apakah akhlak Rasulullah yang begitu lembut, santun, pemaaf, ikhlas dan tawadlu' serta selalu menyentuh hati telah kita teladani???

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar saat kain surbannya diambil dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH TA'ALA dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang tinggi menjadikan beliau seorang yang tawadlu' yang tidak ingin dimuliakan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Ketika pintu Surga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa, “Yaa Rasulallah, bukankah anda telah dijamin Surga? Mengapa anda masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Yaa ‘Aisyah, bukankah saya ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya saya ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah benar-benar sosok hamba yang sangat bersyukur kepada-Nya, beliau mensyukuri semua anugerah yang beliau terima dengan ibadah yang sungguh-sungguh....Subhaanallaah.....

Renungan untuk kita, bagaimana ibadah kita, sudahkah sungguh-sungguh sebagaimana Rasulullah??? atau masih jauh dari rasa sungguh-sungguh??? ataukah masih merasa berat atau merasa terbebani dengan ibadah-ibadah yang Allah wajibkan pada kita??? jawabannya ada di hati kita masing-masing....bila kita mau berfikir memang nikmat Allah pada kita banyak sehingga tidak mungkin kita menghitungnya, tapi sayang banyak manusia yang tidak mau memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan-Nya, terutama nikmat IMAN dan ISLAM.

Allah telah berfirman dalam QS. Al-Qolam ayat 4 yang terjemahnya "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak (berbudi pekerti) yang agung"

Demikian sedikit apa yang ana bisa sampaikan tentang agungnya dan mulianya Rasulullah, tidak lupa ana sampaikan terima kasih kepada siapa yang menyempatkan waktu membaca artikel sederhana ini.

2. Bismillahirrahmaanirrahiim

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?"
Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.

***


Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

***


Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bum; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

***


”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)


3. Kisah Rasulullah dan Seorang Badui

PADA suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Kaabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Kaabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
“Belum,” jawab orang itu.
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badwi itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua-dua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badwi itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badwi berkata lagi, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

Amalan Anak untuk Ibu Bapa yang telah meninggal dunia

السَّلاَمُ عَلَيْكُم
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.


Sahabat yang dirahmati Allah,
Ibu bapa adalah orang yang paling berjasa kepada anak-anaknya. Bermula daripada kesusahan ibunya mengandung selama 9 bulan 9 hari. Kesusahan melahirkan anak-anak dan menyusukan dan membesarkan mereka.

Bagi anak-anak jasa dan pengorbanan ibu bapa sangat besar nilainya. Mereka dengan penuh rasa tanggungjawab membesar, mendidik dan memelihara anaknya hingga menjadi manusia yang berguna kepada masyarakat dan negara. Seorang anak yang diasuh dan dididik dengan nilai agama, hendaklah memberi penghormatan dan kasih sayang sewajarnya kepada mereka.

Kita hendaklah menunjukkan rasa terima kasih dengan sentiasa berbuat baik dan tidak melanggar segala perintahnya, menjaga perasaannya jangan sampai terluka serta menjaganya ketika mereka dalam tua atau uzur.

Sememangnya, kedudukan atau darjat ibu bapa di sisi Allah sangat mulia dan tinggi sekali, sehingga menjadi sebagai ukuran penentu bagi keredaan dan kemurkaan Allah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud: "Keredaan Allah terletak pada keredaan ibu bapa dan kemurkaan Allah pula terletak pada kemurkaan ibu bapanya." (Hadis riwayat at-Tirmizi dan Hakim).

Berdasarkan maksud hadis di atas, seharusnya sebagai insan yang memiliki kesempurnaan akal, kita berusaha untuk mencapai keredaan ibu bapa. Namun dalam masyarakat kita, lebih-lebih lagi pada zaman sekarang ini, kenyataannya masih ramai yang belum insaf dan tidak prihatin terhadap keterangan hadis di atas. Mereka dengan rasa tanpa segan silu, melakukan penderhakaan terhadap ibu bapa yang banyak berjasa.

Sahabat yang dimuliakan,
Setiap yang hidup anak mati , mati tetap datang kepada sesiapa sahaja tanpa mengira umur apabila saatnya sampai maka dia akan dijemput oleh Allah SWT untuk bertemu dengan-Nya di alam barzakh. Apabila ibu atau bapa kita sudah meninggal dunia atau kedua-duanya sudah kembali kerahmatullah, sebagai anak apakah hadiah dan bantuan terbaik yang dapat kita berikan tanda kita kasih dan sayang kepada kedua ibu bapa kita? , dan sebagai tanda penghargaan kita sebagai seorang anak yang soleh atau solehah?

 Terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim bahawa seorang sahabat bertanya Nabi SAW mengenai apakah jasa yang boleh dilakukan oleh anak kepada kedua ibu bapanya yang telah meninggal dunia.?

"Setiap kali Rasulullah SAW mengadakan majlis iaitu tempat baginda mengajar umatnya, ia sentiasa di penuhi oleh orang ramai. Pada suatu hari ketika baginda sedang duduk di sekeliling oleh para sahabat, datanglah seorang lelaki yang bernama Usaid bin Malik bin Rabiah menghadapnya. Dia adalah seorang pahlawan Islam yang sangat berani.

Setiap kali Nabi SAW mengadakan majlis itu, Usaid sentiasa menghadirinya. Dia merasakan segala nasihat-nasihat tentang agama dan ilmu itu sangat penting baginya. Ketika mereka sedang asyik mendengar syarahan dari baginda, tiba-tiba datang seorang lelaki dari golongan Bani Salmah. Sebaik sahaja dia masuk kemajlis itu dengan hormat dia pun bertanya kepada Rasulullah SAW :

“Ya Rasul Allah, masih dapatkah saya berbuat baik terhadap ibu bapa saya meskipun mereka telah meninggal dunia. Semasa mereka masih hidup saya telah berbuat baik terhadap mereka mengikut apa yang terdaya oleh saya. Saya sentiasa berfikir apakah yang boleh saya lakukan setelah keduanya meninggal dunia.”

Rasulullah SAW menjawab yang bermaksud :

“Ya…dapat, sembahyangkanlah untuk kedua ibu bapa kamu, mohon keampunan untuk keduanya, laksanakanlah wasiatnya dan eratkanlah silaturahim dengan orang-orang yang kedua ibu bapa kamu lakukan serta muliakanlah teman kedua ibu bapa kamu.”

Sebaik sahaja mereka terdengar jawapan dari Rasulullah SAW itu mereka terdiam seketika tetapi di wajah masing-masing terbayang kegembiraan. Lelaki yang bertanya tadi masih tidak faham akan jawapan yang di berikan oleh Rasulullah SAW, lantas dia meminta baginda menerangkan sekali lagi.

Rasulullah SAW  tersenyum mendengar kata-kata lelaki itu lantas baginda pun bersabda yang bermaksud “Apabila meninggal dunia seorang anak Adam maka putuslah segala amalannya kecuali tiga iaitu :

1. Sedekah yang di tinggalkan semasa hidup.

2. Ilmu yang di menfaatkan dan

3. Anak yang soleh yang mendoakan kedua ibu bapanya.”

Setelah Rasulullah SAW berkata begitu barulah lelaki itu faham dan mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Nabi SAW kerana telah memberi sesuatu yang besar menfaatnya kepada yang hidup maupun yang telah mati.”

(Hadis Riwayat Luqman Hakim)

Berdasarkan hadis di atas terdapat beberapa amalan yang boleh dilakukan oleh seorang anak untuk kedua ibu bapanya yang telah meninggal dunia iaitu :

1. Sembahyangkan untuk mereka.

2. Mohon keampunan untuk mereka.

3. Laksanakan wasiat yang mereka tinggalkan.

4. Eratkanlah silaturahim dengan orang-orang yang mereka lakukan

5. Muliakanlah teman-teman mereka.

6. Doakan kepada mereka. (Setiap selepas solat fardu berdoalah kepada Allah SWT untuk  kedua ibu bapa supaya Allah SWT mengampunkan semua dosa-dosa mereka)

Selain daripada perkara-perkara diatas seorang anak yang soleh atau solehah akan melakukan beberapa perkara kebaikan untuk membantu ibu bapa mereka yang sedang berada di alam barzakh sebagai ikhtiar dan usaha-usaha untuk membantu mereka beroleh kebaikan dan tambahan pahala yang berterusan.

1. Banyakkan bersedekah terutama sedekah jariah (pembinaan sekolah agama, masjid, rumah anak yatim dan mewakafkan tanah perkuburan orang Islam) niatkan untuk mereka.

2. Sedekahkan al-Quran, buku-buku Islam di sekolah-sekolah agama atau maahad tahfiz atau dimasjid-masjid niatkan untuk mereka.

3. Selalu sedekahkan al-Fatihah, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah an-nas, surah Yasin, surah al-Baqarah dan ayat-ayat al-Quran yang lain untuk mereka. Sebaik-baik yang membacanya adalah kita sendiri sebagai seorang anak.
Sedekah bacaan al-Quran menurut majoriti ulama ahli sunah waljamaah sampai kepada simati :

Abu al-Lajlaj Abu Khalid (seorang sahabat) mendengar Nabi SAW menggalakkan para sahabat membaca ayat suci al-Quran di bahagian kepala dan kaki si mati di atas kubur. Lalu mewasiatkan amalan tersebut kepada anaknya supaya berbuat demikian.

Abd Rahman bin al-A’la bin Lajlaj daripada bapanya, katanya : berkata Abu al-Lajlaj Abu Khalid : “Wahai anakku, apabila aku meninggal dunia kebumikanlah aku. Apabila kamu meletakkan jasadku di liang lahad, bacalah: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah SAW, Kemudian curahkanlah tanah dengan cermat ke atasku. Kemudian bacalah disisi kepalaku permulaan surah al-Baqarah dan penutupnya, kerana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda sedemikian.” (al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 1982, Maktabah al-Ulum Wal Hikam, hlm 220 juz 19)

Di dalam kitab al-Azkar di bawah tajuk: “Apa yang perlu dibaca selepas pengebumian?. Imam al-Nawawi menyebutkan: “Al-Syafie dan para sahabat (ulamak Syafi’iyyah) mengatakan: “Disunatkan membaca disisi kubur sesuatu daripada ayat al-Quran. Mereka mengatakan: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran kesemuanya maka itu adalah (sesuatu yang) baik.” (al-Nawawi, al-Azkar, Dar al-Makrifah: Beirut, 1996, hlm. 142 )

Imam al-Hassan bin al-Sobbah al-Za’farani berkata: “Aku bertanya kepada al-Syafi’ie tentang bacaan al-Quran di kubur. Lalu beliau menjawab: “Tidak mengapa. Al-Khallal meriwayatkan daripada Al-Sya’bie katanya: “Orang Ansar apabila berlakunya kematian dikalangan mereka, maka mereka selalu mengunjungi kuburnya untuk membaca al-Quran di sisinya.”

4. Selesaikan semua hutang-hutang mereka samaada hutang sesama manusia atau hutang dengan Allah SWT. Jika hutang sesama manusia tidak diselesaikan roh mereka akan tergantung di antara langit dan bumi. Hutang dengan Allah SWT adalah nazarnya (jika ada). fidyah kerana meninggalkan puasa. Jika ibu bapa mempunyai hutang dengan bank seperti rumah, kereta dan lain-lain pinjaman tersebut melalui cara riba maka tukarkanlah pinjaman tersebut kepada cara muamalah  Islam dan tukar hak milik kepada anak-anak, kerana berat dosanya yang ditanggung oleh ibu bapa di alam barzakh.

5. Jika ibu bapa belum menunaikan haji maka kita boleh upahkan haji untuk mereka (niatkan upah haji untuk mereka).

6. Beramal dengan amalan Islam. Semua anak-anak yang masih hidup apabila mereka tidak mengamalkan cara hidup Islam dengan melakukan maksiat dan dosa, anak perempuan tidak menutup aurat,  bergaduh sesama adik beradik kerana harta pusaka semua tindakkan ini menyusahkan dan membebankan ibu bapa kita yang berada dialam barzakh. Ibu bapa akan menyesal kerana mereka tidak mendidik anak-anak mereka dengan cara hidup Islam hingga mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT. Ketika ini penyesalan sudah tidak berguna lagi kerana perkara tersebut sudah berlaku. Tetapi untuk anak-anak pula macamana mereka hendak membantu ibu bapa mereka yang sudah mati tadi? Maka mereka perlu beramal soleh, beramal ibadah dan beramal kebaikan kerana semua pahala yang kalian buat akan membari saham yang besar kepada ibu bapa kalian yang sedang menderita di alam barzakh.

Amalkanlah ilmu yang diajarkan oleh kedua ibu bapa kalian maka mereka akan mendapat pahala ilmu yang bermanfaat. Banyakkan sedekah jariah dan niatkan untuk ibu bapa maka ibu bapa kalian akan mendapat pahala sedekah jariah.

Sahabat yang dikasihi,
Teruskan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Apabila kita selesai solat fardu atau ketika berada diwaktu-waktu akhir malam , waktu mustajab doa maka berdoalah untuk kesejahteraan ibu bapa kita yang telah meninggal dunia :

Segala puji bagi Allah yang telah memerintah kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada ibu dan bapa, dan berwasiat agar kami menyayangi mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidiki kami sewaktu kecil.

Ya Allah sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati dan redhailah mereka.

Ya Allah ampunilah mereka dengan keampunan menyeluruh yang dapat menghapuskan dosa-dosa mereka yang lampau dan perbuatan buruk yang terus menerus mereka lakukan.

Ya Allah, berbuat baiklah kepada mereka sebanyak kebaikan mereka kepada kami setelah dilipatgandakan, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang sebagaimana mereka dahulu memandang kami.

Ya Allah berilah mereka hak rububiyah-Mu yang telah mereka sia-siakan kerana sibuk mendidik kami.

Maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu kerana mengutamakan kami.

Maafkanlah mereka atas segala dosa, maksiat dan syubahat yang mereka jalani dalam usaha menghidupkan kami.

Ya Allah berilah mereka bagian ganjaran dari ketaatan yang Engkau hidayahkan kepada kami, kebaikan yang Engkau mudahkan bagi kami, dan taufiq yang telah mendekatkan kami kepada-Mu.

Dan jangan bebankan kepada mereka segala dosa dan kesalahan yang kami lakukan dan tanggungjawab yang kami abaikan. Dan janganlah tambahkan dosa kami ke atas dosa mereka.

Bagi ibu bapa dan nenek moyang kami yang telah meninggal, berikanlah mereka rahmat yang menerangi pembaringan mereka di kubur dan rahmat yang menimbulkan rasa aman ketika manusia merasa ketakutan saat dibangkitkan. Jadikanlah lubang kubur mereka daripada taman-taman syurga. Jauhkan lubang kubur mereka salah satu daripada lubang-lubang api neraka.

Ya Allah lemah lembutlah kepada mereka yang berbaring di kubur dengan kelembutan yang melebihi sikap lembut mereka kepada kami di masa hidup mereka.

Ya Allah janganlah sampaikan kepada mereka berita tentang kami yang mengecewakan mereka, dan jangan bebankan dosa-dosa kami kepada mereka.

Jangan hinakan mereka di hadapan pasukan kematian, malaikat Munkar dan Nakir dengan perbuatan-perbuatan hina dan mungkar yang kami lakukan.

Senangkanlah roh mereka dengan amal-amal kami di tempat pertemuan para arwah, ketika orang yang soleh bergembira dengan putera-puteri mereka yang soleh. Janganlah jadikan mereka ternoda oleh perbuatan buruk kami.

Ya Allah jadikanlah kami penyejuk hati mereka pada hari berdirinya para saksi. Dan jadikanlah mereka orang-orang yang paling cemburu dengan keberhasilan anak-anak mereka hingga Engkau kumpulkan kami, mereka dan segenap kaum muslimin di negeri kemuliaan-Mu, tempat menetapnya rahmat-Mu, dan tempat para wali-Mu bersama orang-orang yang Engkau beri kenikmatan,

Yaitu, para nabi, shiddiqin, syuhada dan solihin, mereka itulah sebaik-baiknya teman.

Demikianlah kurnia dari Allah dan Allah cukup mengetahui. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan kami Nabi Muhammad S.A.W, keluarga dan para sahabat baginda.

Walhamdulillahi Rabbil `Aalamin.  Amin

Amanat seorang ulama' ( Sheikh Ahmad Yassin )


Wahai anak-anakku, 
telah tiba saatnya kalian kembali kepada ALLAH s.w.t. dengan meninggalkan pelbagai keseronokan dan kealpaan kehidupan dan menyingkirkannya jauh… daripada kehidupan kalian.

Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan solat subuh secara berjemaah.

Sudah sampai saatnya untuk kalian menghiasi diri dengan akhlak yang murni,
mengamalkan kandungan al-Quran serta mencontohi kehidupan Nabi Muhammad saw.

Aku menyeru kalian wahai anak-anakku untuk solat tepat pada waktunya.
Lebih dari itu, aku mengajak kalian wahai anak-anakku, untuk mendekat diri kepada sunnah Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian menyedari dan menghayati makna tanggung jawab. Kalian harus tegar menghadapi kesulitan hidup dengan meninggalkan keluh kesah. 

Aku menyeru kalian untuk menghadap ALLAH S.W.T. dan memohon keampunan dari-Nya agar Dia memberi rezeki yang berkat kepada kalian.

Aku menyeru kalian supaya menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

Aku ingin kalian tidak tertidur oleh alunan-alunan muzik yang melalaikan, melupakan kata-kata yang menyebutkan cinta kepada manusia dan dunia serta menggantikannya dengan kata amal, kerja dan zikir kepada ALLAH.

Wahai anak-anakku, aku amat berharap kalian tidak sibuk dengan muzik dan tidak terjerumus ke dalam arus syahwat.

Wahai puteriku, aku ingin kalian berjanji kepada ALLAH akan mengenakan
hijab secara jujur dan betul.

Aku meminta kalian berjanji kepada ALLAH bahawa kalian akan mengambil peduli tentang agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan.
Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian.
Haram hukumnya bagi kalian untuk melakukan sesuatu yang boleh menarik perhatian pemuda supaya mendekati kalian.

Kepada semua, aku ingin kalian bersiap sedia untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan.
Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah.
Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat.

Latihlah diri kalian agar dapat hidup tanpa elektrik dan peralatan elektronik.
Latihlah diri kalian untuk sementara waktu merasakan kehidupan yang sukar.

Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perancangan untuk masa depan.
Berpeganglah kepada agama kalian.

Carilah sebab-sebabnya dan tawakal kepada ALLAH
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik